[Very late post]
Jakarta, Wednesday, June 20, 2007
18:02
Review Novel Travelers’
Tale
Belok Kanan: Barcelona!
(A novel by Adhitya Mulya, Alaya Setya, Iman Hidajat, and
Ninit Yunita)
Berkisah tentang empat sahabat yang tinggal saling berjauhan
di luar negeri. Cinta menjadi tema utama dari novel ini selain travelling of
course. Dari keempat tokoh di dalam novel ini hampir saja membentuk cinta segi
empat kalau saja Retno menaruh hati pada Jusuf.
Kisah cinta yang hampir segi empat ini terjalin seperti ini:
Tuh kan
hampir segi empat kalo saja Retno naksir Jusuf. Keempatnya memendam cintanya
masing-masing. Tidak tahan lagi memendam cinta untuk kekasih hati, keempatnya
berjanji bertemu di Barcelona
untuk menghadiri pernikahan Francis dengan Inez, gadis Spanyol (tadinya).
Alih-alih menghadiri pernikahan Francis keempatnya malah berencana bertemu
untuk mengungkapkan cintanya masing-masing pada orang yang mereka cintai. Dari
sini kita diajarin untuk never give up untuk bilang cinta sama orang yang kita
cintai walopun harus mengelilingi setengah dunia. Never give up to say love to
someone that we love, itu intinya.
Francis berkarakter cool, calm, serius, plin-plan dan
romantis. Retno anggun, sopan, naïf dan muna. Farah lucu, cute, agak
kekanak-kanakkan, dan pesimis. Jusuf konyol, ngocol abis, kelewat Pede, dan narsis.
Sisi unik pada novel ini terletak pada perjalanan keempat
tokoh menuju Barcelona
dari negaranya masing-masing. Jusuf yang berangkat dari Cape
Town, Afrika Selatan, sempat terjebak perang saudara di Abidjan (Cote d’Ivore = Pantai Gading), disangka kelompok
Al-Qaeda oleh petugas imigrasi Spanyol, dan ia juga sempat mampir ke bar gay di
La Rambla Barcelona.
Farah yang berangkat dari Hoi An, Vietnam,
harus mengirit ongkosnya agar sampai dengan selamat sentosa di Barcelona. Di pejalanan ia
bertemu backpakers lainnya yang dengan baik hati menawarkan penginapan dan
transportasi gratis serta pengalaman traveling yang priceless. Retno yang tinggal
di Koppenhagen, Denmark
bertamasya dulu keliling Eropa sebelum akhirnya sampai di Barcelona. Ia mengkisahkan Amsterdam
sebagai the Sin City
(Kota Dosa), Italia yang eksotis dan romantis, de el el. Francis sang pianis
yang berangkat dari New York City, lebih banyak
mengkisahkan kehidupan urban Kansas City dan New York City.
Kalo mo tahu tempat-tempat menarik di setengah lingkaran
dunia tanpa harus buang banyak uang maka novel ini ada di urutan pertama untuk
patut dan perlu dibaca.
Unsur komedi tidak pernah ketinggalan jika ada nama Adhitya
Mulya. Si “Jomblo” ini selalu lengkap dengan gaya komedi segar dan spontaniousnya.
Yang bikin rada mumet adalah beralih dari cerita satu tokoh
ke tokoh lainnya secara kita udah enjoy baca perjalanan tokoh Retno, misalnya,
trus di bab selanjutnya pindah ke perjalanan Francis. Di sini kita mesti ingat
si Francis terakhir lagi di mana yah, lagi ngapain yah? Terus juga misspelling
masih terjadi di sana
sini, which is masih bisa dimaklumi.
Satu sih yang kayaknya asik kalo disertakan di novel ini, peta bo’. Secara gw
udah lupa letak negara-negara di Afrika dan Eropa yah rada bingung juga ketika
harus menelusuri perjalanan masing2 tokoh. Oiya, satu lagi novel ini juga
berisi tips and tricks for traveling.
Anyway, novel ini patut diacungin jempol, karakter keempat
tokohnya dijalin dengan kompak dan konsisten. Endingnya? Endingnya worth it,
khususnya untuk Jusuf...heheh...
So, kalo mo beli novelnya, udah tersedia banyak di toko
buku. Tebalnya 398 halaman. Penerbitnya Gagas Media. Harganya 40rb rupiah*.
Cheers
*Harga novelnya ya bukan harga penerbitnya.. [itu harga
tahun 2007 ya]
No comments:
Post a Comment