Friday, 8 April 2016

Review The Devil Wears Prada



The Devil Wears Prada simply means “Setan” yang Mengenakan Prada. David Frankel, sang sutradara rupanya piawai dalam memperkenalkan “The Devil” that wears Prada. Penampakan awal “setan” yang mengenakan Prada pada film ini begitu mewakili; Miranda Priestly (Meryl Streep) keluar dari Mercedes Benz dengan jaket bulu hitam dan menenteng tas putih bermerk Prada. Jaket bulu hitam yang elegan dan tas putih Prada benar-benar menyampaikan  kepada penonton siapakah si “Devil” dalam film ini. Sosok Miranda Priestly begitu disegani oleh siapapun yang berurusan dengannya. Ia seorang perfeksionis yang diktator. Semua harus sesuai dengan keinginannya. Jika ia menginginkan A maka ia harus mendapatkan A yang benar-benar A, bahkan A+.  Pengenalan sosok Miranda begitu jelas, ketika karyawannya panik begitu tahu Miranda segera datang ke kantor. Semuanya bergegas merapikan diri dan barang-barang supaya semua terlihat rapih.

Film ini berkisah tentang perjalanan karir Andrea Sachs, yang diperankan Anne Hathaway. Andrea atau Andy adalah seorang jurnalis muda yang baru saja lulus dari kuliahnya yang tentu saja penuh dengan idealisme dan begitu percaya diri. Berbekal pengetahuan minim tentang fashion, ia melamar sebagai asisten penerbitan majalah pemimpin redaksi Runway (majalah fashion yang paling berpengaruh di Amerika Serikat). Penampilannya yang lugu dan tidak up-to-date membuat ia dicemooh orang-orang Runway yang melihatnya sepintas lalu. Tetapi kepercayaannya kepada dirinya sendiri dan menjadi apa adanya membuat Miranda, secara tak terduga, menerimanya sebagai asisten. Mungkin kalimat Andy berikut yang membuat Miranda tertarik untuk menerimanya, “ I know I don’t fit in here. I’m not skinny and glamorous and I don’t know that much about fashion but I’m smart. I learn fast and I will work very hard.”

Majalah Runway punya reputasi yang sangat baik. Designer-designer begitu mendengarkan komentar Miranda. Pekerja Runway adalah orang-orang yang stylish dan  fashionable. Andy adalah gadis yang kurang melek fashion dan ia enggan mengubah gayanya. Di awal pekerjaannya, dia berpikir tidak akan mengikuti gaya Runway. Ia begitu idealis, dia adalah sepenuhnya dia lengkap dengan gayanya dan ia berharap orang-orang bisa menerimanya apa adanya, begitu pikirnya. Masalah demi masalah ia hadapi di awal pekerjaannya, seperti ia gagal memenuhi permintaan Miranda untuk dipesankan tiket pesawat di saat cuaca buruk dan tidak ada penerbangan. Inilah titik balik Andy. Ia begitu terpukul dan tersentuh ketika Miranda berkata ia kecewa Andy tidak dapat memenuhi permintaannya dan ia ragu kalau Andy sungguh-sungguh pada pekerjaannya.

Dengan dibantu Nigel, penata busana Runway, Andy lalu mengubah penampilannya seperti kebanyakan gadis-gadis pekerja Runway, menjadi stylish, elegant and sexy. Ia mulai menyatu dengan alam Runway yang demanding, stylish and elegant. Ia dapat memenuhi permintaan Miranda bahkan ia memberi lebih. Miranda puas tetapi ia tidak pernah begitu saja menguji Miranda. Ia orang yang pelit pujian tetapi ia memberi reward langsung berupa kepercayaan lebih kepada Andy dengan mengajaknya ke Perancis melihat peragaan busana, kesempatan langka untuk orang-orang Runway yang terpilih.
Andy mulai sukses dalam pekerjaannya tetapi sukses itu harus ia bayar dengan terganggunya hubungannya dengan kekasihnya, Nate (Adrian Granier). Kesibukan Andy membuat komunikasinya dengan Nate memburuk. Perjalanan Andy bersama Miranda ke Paris membuka pikirannya tentang apa yang ia kejar dalam hidupnya. Miranda dan Andy saling tukar pikiran. Andy tahu bagaimana cara pandang Miranda terhadap pekerjaannya. Seketika itu juga Andy tahu apa yang ia kejar dalam hidupnya, karir atau impiannya?  

Hm..penasaran gimana endingnya? Tonton aja DVDnya sendiri..hehe.. Dijamin gak nyesel. Sampai jumpa di film lain...


Cheers

[very late post]
Wednesday, December 13, 2006, 22:51

No comments:

Post a Comment